Posisi Rakyat Di Pilpres

 

Matdon – Rois ‘Am Majelis Sastra Bandung

Dimana posisi rakyat dalam setiap Pemilihan Presiden (Pilpres)? Ialah menjadi raja bagi para calon pemimpin. Bayangkan calon pemimpin akan datang ke mesjid dimana rakyat kumpul dan diberi sembako.

Setelah terpilih, calon itu tak datang lagi ke mesjid itu, karena mesjid adalah muara suara yang gampang diraih. Rakyat akan dimanjakan oleh paa calon pemimpin, anak balita bisa digendong dan “disuapin”, ibu-ibu akan diberi kerudung baru, bapak-bapak bisa makan bersama, diiming-iming pendidikan yang murah, kesehatan gratis, lowongan kerja dan lain lain. Semuanya teras manis, semanis permen.

Tetapi setelah itu, rakyat dibiarkan berkelahi dengan aparat, anak-anak gelandangan semakin banyak, pendidikan susah, kesehatan mahal, rakyat hanya bisa makan janji lalu minum air duka. Lima tahun kemudian siklus itu akan terjadi dan terus terjadi, rakyat seperti sisiphus.

Sementara pemimpin yang terpilih sibuk dengan urusan lain,urusan yang pura-pura demi rakyat. Akankah di Pilpres 2019 nanti terjadi demikian? Saya kira tidak akan jauh berbeda. Betapa misruhnya urusan Pilpres, mulai dari koalisi politik sampai nanti di depan TPS.
.
Pilpres dan Rakyat

Memasuki era Pilpres adalah memasuki wilayah impian dan harapan. Dan ketika rakyat disibukan dengan kampanye, para calon pemimpin tertingi pun sibuk memasuki wilayah wilayah-janji yang biasanya berisi kebohongan, impian dan harapan, mereka sibuk masuk pasar, sesuatu yang tidak pernah dilakukan saat sedang berkuasa, ada yang sibuk naik ojeg dan delman, sebuah aktivitas yang tdak pernah mereka lakukan sebelumya. Inilah kampanye. Persis seperti artis!

Budaya perpolitikan di Indonesia, menilai seseorang tentang bagaimana dapat memiliki kekuasaaan didasarkan pada faktor-faktor kekayaan, memiliki kapasitas intelektual, integritas moral, kharisma, keterunan dan proses politik & sosial.

BERITA TERKAIT

Pro dan kontra terus bergulir tentang keterlibatan selebritis atau jenderal poliis dan tentara dalam ranah perpolitikan. Eksistensi dalam ranah perpolitikan jedneral dan artis merupakan modal awal bagi dirinya mengembangkan keterampilannya dibidang politik.

Kemunculan mereka merupakan perwujudan dari dinamika politik. Polisi, Tentara dan Artis adalah bagian dari masyarakat yang berhak mengabdi pada negara, Jika ada partai politik yang rela membuka pintu bagi mereka, ya katakanlah sebagai wacana yang lama dan berkembang saat ini.

Pilpres kali ini belum bisa dipatikan apakah pertarungan Jokowi dan Prabiwi akan kembali digekar, meskipun angin ke arah sana sudah ada. Mereka sudah berlomba sejak lama, wajah televisi dan koran sudah banyak membahas mereka berdua, walau belum ada wajah narsis di pnggir jalan bahkan di pohon-poohon berupa spanduk dan baliho ; menampilkan Narsisme dan memperkenalkan siapa dirinya.

Fahamilah pemimpin yang terlalu narsis bukankah salah satu syarat pemimpin yang baik memang tidak menebar janji-janji, apalagi janji itu dipasang dalam teks spanduk, sungguh ini selain menyakitkan mata juga menyakitkan hati rakyat. Karena bagaimanapun juga setiap pemimpin akan ditanya oleh Allah tentang apa yang telah dipimmpinya termasuk menunaikan janji saat kampanye (di spanduk). Al-Wa’du Dainun – Janji itu adalah hutang. Kelak pemimpin yang hanya mengumbar janji harus bertanggung jawab atas janjinya.

Boleh pakai spanduk, asal sopan, tidk sembarang tempel sebab pemimpin yang baik tidak boleh narsis. Calon pemimpin yang baik adalah mampu mendengarkan rakyat bukan memperkeruh susana dengan spanduk, bayangkan berapa biaya membuat spanduk, saya pikir akan lebih baik jika dana spanduk itu disumbangkan kepada fakir miskin. Sungguh calon pemimpin yang memasang spanduk di bulan ie telah mengabaikan kebutuhan orang lain. Memasang spanduk itu malah terkesan gila hormat.

Saya ingin menyebut calon pemimpin yang memasang spanduk menandakan bahwa ia tidak mampu menilai prestasi sendiri, ia mengalami risau yang berlebihan alias galau, takut tidak terpilih nantinya. Spanduk-spanduk itu seolah menjadi ciri khas bahwa dia tidak mampu mengendalikan emosi.

Spanduk-spanduk berisi slogan dan propaganda itu sungguh perbuatan tidak terpuji, mengotori keindahan kota yang seharusnya bersih dari hiruk pikuk janji politik. Bersih dari hingar bingar propaganda yang tak jelas. Saya pikir tidak berebihan jika rakyat melihat calon pemimpin demikian sebagai badut sirkus, narcisius politikus dengan syahwat politik dan ambisius yang luar biadab.

Dalam kenyataannya, kehidupan sosial hidup bermasyarakat merupakan awal seseorang dihormati dan menjadi orang terhormat, tidak ditentukan apakah ia calon pemimpin atau tukang sampah sekalipun. Harga diri manusia sehingga bisa dihormati tergantung amal perbuatannya, walaupun calon pemimpin tetapi jika kelakuannya sombong dari aturan dan sangat memalukan, itu tak perlu dipilih. Apalagi jika mereka mengemis minta dipilih.

Sesungghnya manusia besar dan bermartabat serta dihormati bukan dari seberapa besar uang yang ia miliki dan seberapa banyak spanduk disebar, tapi dari tutur kata dan perilaku. Prinsip hidup adalah pengorbanan, sebuah persembahan kepada Tuhan adalah harus dimiliki calon pemimpin.

Socrates pernah mengatakan, gila hormat itu adalah selimut bagi orang yang hatinya seperti batu. Saya pun berdoa, agar pilkada serentak sebenarnya untuk rakyat dan tidak mengorbankan rakyat untuk kepentingan yang lain. Cag!

You might also like