Puasa Dan Memuisi Jiwa

Penulis: Matdon*

Agar kehidupan batinmu bisa bepuisi, maka berpuasalah. Kenapa? Karena orang–orang beriman diperintahkan oleh Allah untuk berpuasa di bulan Ramadhan guna mencapai kehidupan memuisi.

Pahamilah. Kehidupan puisi adalah kehidupan puasa. Karena puisi selalu dimaknai sebagai rasa atau suasana batin yang tercipta dalam bentuk kata-kata. Seorang  Penyair  akan berupaya mengekstrak batinnya menjadi serat halus kata-kata dan mengajak penimatnya untuk merasakan dan menyelami batin penyair, yang disebut-sebut oleh Acep Zamzam Noor sebagai “Berdiri Bulu Kuduk”.

Dalam Quran Surat Albaqoroh ayat 183 disbutkan bahwa manfaat orang berpuasa itu la’allakum tattaqun, artinya agar-orang menjadi pribadi yang bertakwa, sementara makna lain dari la’allakum tattaqun bisa agar hati kita lebih bersih, agar jiwa kita menjadi orang yang bageur, cageur tur sabar (baik, sehat serta sabar), menjadikan orang yang damai dan tidak suka dengan pertengkaran, menerima kekalahan, menjadi berpikir jernih, miliki disyukuri, hati dan kepala kita bersih seperti puisi.

Manusia akan bertemu dengan hal-hal yang bersipat transendental. Sekedar menjalankan puasa itu sangat gampang, tapi untuk meghindari yang membatalkan pahala puasa penuh dengan tantangan yang menuntut perjuangan dan pengorbanan. Kita bisa saja terbebas dan kuat dari makan minum siang hari atau menahan hasrat birahi, tetapi bagaimana dengan menahan diri dari kenikmatan emosi lainnya?  Perhatikan saja fenomena media sosial. Rasanya sulit kita terhindar dari bentuk baru kebohongan, syahwat, gibah digital dll yang sejatinya akan mengurangi pahala puasa bahkan membatalkannya. Apalagi di tahun politik seperti saat ini, tidak jarang kita melihat bagaimana pengguna media sosial membagi konten-konten yang justru mengundang polemik bahkan pertengkaran.

BERITA TERKAIT

Sementara puasa merupakan penyembahan khusus hanya untuk Allah. Puasa adalah suasana batin dan rasa yang di dalamnya ada karsa yang ditujukan khusus hanya untuk sang pencipta. Sama dengan puisi, ada pergumulan batin dan kekuatan untuk kekuatan jiwa untuk Tuhan. Orang-orang sebelum Nabi Muhammad pun melakukan puasa, dengan berbagai tujuan tentunya.

Membaca puisi harus dengan rasa dan hati yang bersih, jika tidak meskipun puisi tersebut tersusun dengan kata-kata indah, dan rima yang apik, puisi tidak akan sampai dipahami dan masuk ke dalam rasa. Dunia puisi adalah dunia batin dan suasana rasa, begitu pula dengan puasa.

Nilai moral dan kejujuran diuji di bulan Ramdhan, pendidikan karakter juga. Pahamilah kejujuran merupakan satu mata rantai paling berharga untuk puasa dan puisi, jika tidak maka puasa akan menjadi percuma. Untuk itu perlu kiranya menanam kembali nilai-nilai sakral kejujuran agar terhindar dari keringnya akhlak, tidak saling adu domba dan saling menjatuhkan.

Pada dasarnya manusia adalah mahluk yang sangat puitis, maka  manusia harus senantiasa menjungjung nilai-nilai dan mengajarkan manusia itu sendiri agar mencapai puncak kebenaran jati dirinya. Manusia itu memiliki rasa religiusitas yang tinggi, maka makhluk beragama harus memiliki sisi transendensi profetikisme dalam dirinya, sehingga mampu menuntun dirinya mencapai puncak religiusitasnya. Dan puasa itu meupakan upaya menahan segala nafsu amarah yang menggelora, sementara puisi juga untuk menahan rasa egois yang berlebihan.

Di dalam puisi ada struktur batin sepeti tema, rasa, irama, dan isi, di dalam puasa ada syarat rukun dan itu adalah tema, rasa, irama dan isi. Dalam puisi ada  tipografi diksi, imaji, bahasa figuratif, rima, dalam puasa juga ada tantangan seperti tipograpi, diksi dan bahasa figuratif, karena sekali lagi puasa merupakan ibadah transendental, sebuah jalan yang harus ditempuh untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta, demi sebuah pencapaian yang diinginkan. Nah!

* Penulis, wartawan, penyair telah menulis sejumlah buku puisi dan satu buku esai. Karya-karyanya termuat di beberapa buku antologi dan tersebar di berbagai media nasional. Sekarang aktif sebagai Rois‘Am di Majelis Sastra Bandung.

You might also like